- Tujuan Pengajaran
Anak mau menerima diri dan keadaannya
Seorang pemecah batu karang mengeluhkan keberadaan dirinya.
"Ah, Tuhan tidak adil. Setiap bekerja aku pasti kepanasan. Betapa enaknya menjadi matahari. Ia tidak perlu bersusah payah seperti aku. Jika Tuhan adil, aku ingin menjadi matahari."
Tuhan mengabulkan permintaannya, dalam waktu sekejab ia berubah menjadi matahari. Betapa bangganya ia. Dengan sekuat tenaga, ia menyinarkan cahanya keseluruh bumi hngga manusia menjadi kegerahan. Tetapi, tiba - tiba awan hitam menutupi sinarnya. Cahaya yang kuat tidak mampu menembusnya.
"Ah, Tuhan tidak adil. Ternyata ada yang lebih kuat daripada aku. Jika tuhan adil, aku ingin menjadi awan hitam."
Tuhan mengabulkan permintaan matahari. Dalam sekejab, ia berubah menjadi awan hitam. Dengan congkaknya, sang awan berkeliling mengelilingi dunia dan menggelapkan isinya, tiba - tiba bertiuplah angin dengan sangat kencang hingga awan itu bercerai berai, sang awan menjadi marah.
"Tuhan, Engkau sungguh tidak adil, ternyata angin dapat mengalahkan aku. Kalau begitu, jadikan aku sebagai angin."
Dalam sekejab awan berubah menjadi angin. Dengan kekuatannya ia bertiup kencang sehingga banyak rumah dan pohon yang roboh. Ia merasa menjadi yang paling hebat hingga akhirnya ia menghantam batu karang, namun batu karang itu tetap tegak berdiri tidak goyah sedikitpun. Berkali kali ia menghantam batu karang. Tetapi, jangankan hancur, beranjak sedikitpun tidak. Angin menjadi jengkel.
"Tuhan..! Jadikan aku batu karang agar aku dapat menahan angin."
Tuhan sekali lagi mengabulkan permintaanya. Batu karang itu yakin bahwa tidak ada yang bisa mengalahkannya. Laki laki tua dengan bertelanjang dada membawa alat pemecah batu. Sedikit demi sedikit, laki laki tua itu memecah batu karang hingga menjadi batu batu kecil. Batu karang menjadi sadar bahwa ia harus kembali menjadi pemecah batu karang.
- Tuhan memberi pelajaran bagi orang yang tidak pernah puas dan senang membandingkan dirinya dengan orang lain.
Penerapan
Manusia memang tidak pernah merasa puas sehingga sering kali melihat orang lain lebih baik dari dirinya sendiri. Kita harus mengucap syukur dan menerima diri kita apa adanya.
~Khusus untuk anak~









Kisah yang menggambarkan sifat manusia yang serakah, yang tidak mau berucapa Syukur atas nikmat Tuhan hari ini, padahal kata sykur itulah sesungguhnya rasa nikmat,
ReplyDeletememang manusia tidak pernah didasari dengan rasa puas, tetapi ketidakpuasan itu bisa dikalahkan dengan bersyukur.
Yups saya setuju...
Delete